Kamis, 02 Juni 2016

Moncong Mata

Moncong Mata
     Moncong mata dalam budaya Makassar merupakan salah satu istilah penyakit batin, yang mengahantui sepasang kekasih, moncong mata dapat diartikan kebencian dan kemarahan atas pandangan mata seseorang kepada kekasihnya , segala sesuatu yang diperbuat pasangannya meski baik tetap dipandang jelek oleh orang yang mengidap penyakit ini. 
     Penyakit moncong mata tidak hadir begitu saja tetapi pesanan mistik seseorang untuk menghancurkan keharmonisan  hubungan keluarga lawan politiknya, perpecahan akibat moncong mata dalam bentuk perceraian dan pertengkaran. Orang yang terkena moncong mata ketika marah , wajahnya memerah dan sekitar bola matanyapun turut memerah.
     Moncong Mata menghantui mereka yang telah berumah tangga dan menghancurkan mahligainya, penyakit ini sangat berbahaya karena sulit mendapatkan penawarnya. Di era sekarang moncong mata sudah jarang terjadi, yang banyak muncul adalah Mata duitan dan Mata Keranjang, kedua penyakit mata ini lebih ampuh mengahancurkan hubungan sepasang kekasih baik yang sudah berumah tangga maupun belum berumah tangga. Penyakit ini bukan disebabkan oleh orang lain tapi disebabkan oleh diri sendiri karena mentalnya sudah tidak beres. 
     Kalau zaman dulu penyakitnya batin memiliki etika, karena disebakan oleh pihak ketiga sekarang penyakit batin justru menyebabkan pihak ketiga, contoh kalau mata keranjang pihak ketiganya janda muda, cabe cabean, dan lain lain.  Moncong Mata masih memiliki etika karena hanya moncongin pasangan sendiri, kalau mata keranjang  asal masuk kategori mau bukan muhrim atau muhrim sama saja tetap di kerajangi .
     Meski sudah banyak penyakit batin yang muncur dari mata, tapi moncong mata masih tetap ada dan merupakan penyakit batin yang masih sangat diwaspadai oleh tardisi/ budaya, kalau mata keranjang sebaiknya menyingkir penampakannya saja sudah tidak beretika apalagi mau masuk ke budaya keburu dibacok oleh pemuda kampung. “Kadang penyakit kampung lebih beretika daripada penyakit modern”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar