Moncong
Mata
Moncong
mata dalam budaya Makassar merupakan salah satu istilah penyakit batin, yang
mengahantui sepasang kekasih, moncong mata dapat diartikan kebencian dan
kemarahan atas pandangan mata seseorang kepada kekasihnya , segala sesuatu yang
diperbuat pasangannya meski baik tetap dipandang jelek oleh orang yang mengidap
penyakit ini.
Penyakit
moncong mata tidak hadir begitu saja tetapi pesanan mistik seseorang untuk
menghancurkan keharmonisan hubungan
keluarga lawan politiknya, perpecahan akibat moncong mata dalam bentuk
perceraian dan pertengkaran. Orang yang terkena moncong mata ketika marah ,
wajahnya memerah dan sekitar bola matanyapun turut memerah.
Moncong
Mata menghantui mereka yang telah berumah tangga dan menghancurkan mahligainya,
penyakit ini sangat berbahaya karena sulit mendapatkan penawarnya. Di era
sekarang moncong mata sudah jarang terjadi, yang banyak muncul adalah Mata
duitan dan Mata Keranjang, kedua penyakit mata ini lebih ampuh mengahancurkan hubungan
sepasang kekasih baik yang sudah berumah tangga maupun belum berumah tangga.
Penyakit ini bukan disebabkan oleh orang lain tapi disebabkan oleh diri sendiri
karena mentalnya sudah tidak beres.
Kalau zaman
dulu penyakitnya batin memiliki etika, karena disebakan oleh pihak ketiga sekarang
penyakit batin justru menyebabkan pihak ketiga, contoh kalau mata keranjang
pihak ketiganya janda muda, cabe cabean, dan lain lain. Moncong Mata masih memiliki etika karena hanya
moncongin pasangan sendiri, kalau mata keranjang asal masuk kategori mau bukan muhrim atau
muhrim sama saja tetap di kerajangi .
Meski
sudah banyak penyakit batin yang muncur dari mata, tapi moncong mata masih
tetap ada dan merupakan penyakit batin yang masih sangat diwaspadai oleh
tardisi/ budaya, kalau mata keranjang sebaiknya menyingkir penampakannya saja
sudah tidak beretika apalagi mau masuk ke budaya keburu dibacok oleh pemuda kampung.
“Kadang penyakit kampung lebih beretika daripada penyakit modern”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar